Mengenal teknologi bioskop zaman dulu dan zaman sekarang


Siapa diantara pembaca yang masih menonton film bioskop? Film bioskop biasanya identik dengan orang yang pacaran atau untuk keluarga, tapi tidak menutup kemungkinan orang yang masih single (jomblo) pun menonton film di bioskop. Meskipun zaman sekarang sudah ada DVD dengan harga yang murah, bahkan sudah ada streaming online bertebaran di internet, menonton bioskop tetap diminati masyarakat, itu karena menonton di bioskop memiliki sensasi yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan menonton film di DVD atau di streaming online, dan meskipun menonton bioskop itu mengeluarkan biaya yang lebih mahal dibandingkan dengan menonton film di DVD atau di streaming online, mereka tetap tidak merasa rugi menonton film di bioskop karena mendapatkan nilai lebih dari menonton di bioskop. Tapi taukah anda perbedaan teknologi bioskop zaman dulu dengan teknologi zaman sekarang? Penulis akan mencoba untuk membahasnya.

Teknologi bioskop itu sendir dimulai dari adanya layar tancap yang sudah dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Bioskop ini populer juga dengan nama bioskop PES karena zaman itu adalah zaman menularnya penyakit PES. Kenapa disebut sebagai layar tancap? Layar tancap itu sendiri disebut demikian karena pemasangan tonggak penahan yang harus ditancapkan ketanah. Penyajian film layar tancap ini sudah menggunakan teknologi film seluloid. Film layar tancap ini sangat akrab dizaman keemasan Indonesia (70-80 an) karena layar tancap diputar di lapangan terbuka sehingga berkumpulnya masyarakat di lapangan (dengan jenjang sosial yang berbeda-beda) sehingga hal itu memberikan nilai tambah kepada masyarakat. Layar tancap ini memang hampir menyerupai bioskop, tapi bioskop sebenarnya hadir ditahun 2002, bioskop ini menggunakan kamera seluloid 35 mm sebagai proyektornya.

Seiring berjalannya waktu, teknologi kamera seluloid 35 mm ini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan proyektor digital. Meskipun kamera seluloid 35 mm ini memiliki resolusi yang setara dengan 8K, sedangkan proyektor digital memiliki resolusi 4K, tapi kamera seluloid 35 mm ini mempunyai beberapa kekurangan, diantarannya kejernihan gambar tidak stabil (memungkinkan ada gambar yang ditampilkan rusak akibat sentuhan fisik), sedangkan dengan menggunakan kamera digital resiko gambar kotor akibat sentuhan fisik tidak ada.

Bioskop digital sendiri dimulai pada tahun 2002, yang pada saat itu Major Studio Hollywood membentuk sebuah tim yang diberi nama Digital Cinema Initiative (DCI). Organisasi ini bertugas untuk menciptakan standar arsitektur yang digunakan untuk bioskop digital agar bioskop digital mempunyai model yang seragam, berkwalitas tinggi, dan tangguh. Ada dua standart yang menjadi acuan yaitu SMPTE (Society of Motion Picture and Television Engineers) dan ISO (International Organitation for Standardization).

Untuk bioskop digital di Indonesia sendiri mulai hadir pada tahun 2014, bioskop-bioskop yang sudah menggunakan teknologi digital diantaranya 21, XXI, Bitzmegaplex, Platinum, Cinemaxx. Bioskop ini menggunakan alat proyektor digital yang memenuhi standart projector bioskop yang disebut sebagai lumen. Lumen adalah intensitas terangnya cahaya, standart lumen bioskop adalah sekitar 25.000 lumen.

Lalu zaman sekarang muncul lagi sebuah bioskop yang bernama IMAX. Bioskop IMAX adalah perkembangan dari bioskop digital. IMAX sendiri merupakan singkatan dari Image Maximum. IMAX menggunakan format film 70mm. IMAX ini dikembangkan pada akhir 1960. Bayangkan, dengan menggunakan format film 70 mm (bioskop normal menggunakan format film 35mm) artinya tampilan bioskop yang akan bisa kita saksikan akan lebih besar dan kwalitas gambar yang akan kita dapatkan akan lebih bagus jika kita menonton film di bioskop IMAX.

Maka timbul sebuah pertanyaan, mengapa bioskop IMAX memiliki tampilan yang lebih besar dan kwalitas visual dan audionya lebih baik dibandingkan dengan bioskop pada umumnya? Jawabannya karena bioskop IMAX menggunakan proses remastered atau dirombak ulang, proses perombakan ulang ini diberi nama dengan IMAX DMR atau Digital Media Remastering. Dengan menggunakan proses IMAX DMR ini maka kita bisa menampilkan film seukuran 70 mm dengan suara audio yang lebih menggelegar lagi (peningkatan kwalitas audio dan visual). Tetapi sayangnya, di Indonesia sendiri, Bioskop IMAX sendiri yang menggunakan format film 70mm masih hanya ada di Keong Mas – Taman Mini Indonesia Indah. Taman mini indonesia indah juga masih jarang menayangkan film-film box office/film-film blockbuster hollywood.

Untuk pemutaran audio di bioskop, rata-rata bioskop zaman sekarang (bioskop 21) sudah menggunakan teknologi Dolby Digital Surround versi 7.1. Meskipun teknologi yang digunakan sudah mendukung Dolby Digital Surround versi 7.1, tapi ada beberapa film di bioskop yang format soundnya hanya 5.1 sehingga suara yang dihasilkan kurang maksimal. Tapi ketika kalian membandiangkan dua bioskop (bioskop xxi dan bioskop 21) yang keduanya sama-sama menggunakan Dolby Digital Surround versi 7.1, tapi terkadang kita merasa suara yang dihasilkan oleh xxi lebih bagus daripada suara bioskop 21, itu karena bioskop 21 hanya menggunakan speaker 2way (two way / High dan low) saja, sedangkan bioskop xxi menggunakan 3 way ( there way / High, midle and low). Jadi kwalitas suara bukan hanya ditentukan dari teknologi Dolby Digital Surround saja, tapi ada faktor lain yang berpengaruh dengan kwalitas yang dapat dihasilkan oleh bioskop, salah satunya dari speakernya.

Pada tahun 2012 sendiri Dolby sudah mengembangan teknologinya yang disebut sebagai Dolby Atmos, Dolby Atmos adalah teknologi virtual reality suara yang akan memaksimalkan audio didalam sebuah cerita didalam sebuah film. Dengan mengunakan teknologi ini, para film maker bisa memindahkan suara ke sudut manapun di bioskop untuk menciptakan efek-efek suara yang lebih terlihat nyata. Teknologi ini sudah di sebarkan dan dipasang di 33 negara. Ada 85 film yang sudah support dengan teknologi ini seperti film The Hunger Games, Catching Fire, X-Man: Days of Future Past, dan masih banyak lagi judul film yang sudah menggunakan teknologi Dolby Atmos. Di negara Indonesia Dolby Atmos sudah digunakan di pasang di beberapa bioskop XXI, diantaranya: Epicentrum XXI, Plaza Senayan XXI, Pondok Indah 2 XXI, Gading XXI, Senayan City XXI, Kasablangka XXI, Plaza Indonesia XXI, Gandaria City XXI, Emporium XXI, Puri XXI, Karawaci XXI, PIM XXI, PIM XXI Palembang, Empire XXI, Ciwalk XXI, Center Point XXI Medan, Ciputra World XXI Surabaya, Alam Sutera XII, dan diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Masih ada beberapa orang yang berfikir bahwa teknologi bioskop digital zaman sekarang ini, masih belum bisa mengalahkan kwalitas gambar dari teknologi kamera seluloid, tapi hampir dapat dipastikan bahwa teknologi yang semakin maju saat ini, akan bisa membuat kamera digital lebih baik dibandingkan dengan kamera digital yang ada sekarang. Malah sekarang bermunculan bioskop 3D (tiga dimensi) dan bioskop 4D, bahkan saya pernah membaca artikel di Internet yang mengatakan bahwa akan ada bioskop yang menggunakan teknologi bioskop 9D.
Scroll To Top