Alat teknologi canggih yang digunakan di dalam Asian Games 2018 yang lalu


Semua sudah mengetahui bahwa Asian Games tahun 2018 diselenggarakan di negara Indonesia. Tapi masih banyak yang belum mengetahui bahwa meskipun negara Indonesia masih termasuk negara berkembang ternyata negara Indonesia sudah menggunakan teknologi yang bisa dibilang cukup canggih dalam pertandingan Asian Games tahun 2018. Hal ini dikarenakan negara Indonesia menginginkan untuk memberikan yang terbaik kepada para pemain Asian Games tahun 2018. Berikut ini adalah teknologi yang digunakan di dalam Asian Games 2018:

1. Sistem ticketing


Indonesia menggunakan sistem e-ticketing dengan berbagai tujuan salah satunya adalah untuk menghindari maraknya calo tiket. Dengan menggunakan sistem ini orang yang ingin membeli tiket maka orang tersebut tidak akan mendapatkan tiket dalam bentuk fisik melainkan dalam bentuk voucher yang di dalamnya terdapat QR Code. Tiket elektronik yang sudah dibeli tersebut dapat ditukar dengan tiket fisik atau wristband ticket. Untuk mendapatkan tiket elektronik ini anda harus memerlukan Surat Izin Mengemudi atau kartu KTP elektronik sebagai syarat untuk membeli tiket Asian Games 2018, Hal ini dikarenakan untuk menghilangkan atau untuk mengurangi calo tiket. Karena bagi penyelenggara Asian Games tahun 2018 calo tiket sangat merugikan.

2. CCTV yang dapat mengenali wajah

Teknologi CCTV yang dapat mengenali wajah ternyata sudah digunakan di Asian games pada tahun 2018 yang lalu. CCTV ini dipasang sebagai tindakan untuk kewaspadaan terhadap sesuatu hal yang tidak diinginkan. CCTV ini dipasang diseluruh ibu kota Jakarta. Jadi CCTV ini bukan hanya dipasang di Asian Games saja tetapi juga ditaruh diseluruh ibukota Jakarta.

3. Proyektor yang​ canggih

Pada tanggal 18 Agustus 2018 kemarin ketika pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, menggunakan proyektor yang dibilang cukup canggih. Bukan hanya proyektor saja yang canggih tetapi juga pencahayaan juga cukup canggih. Proyektor tersebut menampilkan keindahan alam yang ada di Indonesia.

4. Jaringan 5G


Para penonton yang menonton pertandingan di Asian Games 2018 di Stadion Gelora Bung Karno dilayani dengan sebuah fitur Internet 5G. Penonton tersebut dapat menikmati internet 5G jika menjadi penonton di sana. Jaringan 5G ini sudah di uji coba oleh operator telepon Telkomsel. Jaringan 5G ini beroperasi di spektrun 28 GHz dan kecepatan yang dihasilkan adalah 16 Gbps dan mempunyai kecepatan beratus-ratus kali lipat dibandingkan dengan jaringan 4G. Dengan menggunakan teknologi ini, tentu saja menggunakan internet menjadi lebih menyenangkan. Jaringan 5G ini sendiri masih belum ada dimasyarakat pada saat ini dan hanya bisa dinikmati oleh sedikit orang saja.

Beberapa uji coba yang dilakukan terhadap jaringan 5G diantaranya adalah Future Driving atau remote control mainan yang menggunakan remote control atau virtual reality (VR) dan juga Cycling Everywhere yang memberikan pengalaman bersepeda yang dapat disaksikan dari layar besar / layar lebar.

5. Teknologi modifikasi cuaca


Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini sudah diterapkan pada tahun 1977. TMC ini memiliki berbagai macam tujuan yang bervariasi diantaranya untuk menambah curah hujan, untuk mengatasi kekeringan, mengisi waduk untuk kebutuhan irigasi dan PLTA, dan juga untuk mengatasi banjir dan juga longsor, juga untuk mengatasi kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan atau lahan.

Pada waktu pertama kali TMC digunakan di Indonesia yaitu tahun 1977, TMC banyak dimanfaatkan untuk mengisi waduk atau danau yang airnya dibutuhkan untuk irigasi atau untuk PLTA. TMC juga digunakan untuk mengurangi kabut asap dan kebakaran lahan. Hal ini dilakukan terus menerus sampai tahun 1997.

Pada tahun 2015 TMC digunakan untuk hal yang lainnya, contohnya untuk mitigasi bencana banjir dan juga untuk mengatasi tanah longsor. Teknologi ini merupakan suatu teknologi yang bermanfaat untuk rekayasa cuaca.

Teknologi modifikasi cuaca ini digunakan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan selama terjadinya Asian Games tahun 2018 yang lalu. Teknologi modifikasi cuaca ini berfungsi untuk mencegah atau menghindari gangguan asap yang dapat menyebabkan terganggunya jalannya Asian Games tahun 2018. Gangguan asap tersebut diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan.

6. Bus tanpa supir


Jika di negara-negara lain ada taksi tanpa supir, contohnya dinegara Singapura dan negara Jepang. Ternyata teknologi ini juga digunakan di negara Indonesia, tepatnya ketika asian games berlangsung di Indonesia. Bus tanpa supir ini adalah uji coba yang dilakukan oleh pihak Telkomsel di kawasan Gelora Bung Karno. Bus ini dapat mengangkut penumpang sebanyak 15 orang. Bus ini memiliki desain yang bagus dan modern. Bus ini diciptakan oleh pabrik yang bernama Navya. Perusahaan ini merupakan perusahaan otonom yang berasal dari negara Prancis.

7. Teknologi keamanan cyber


Untuk mengatasi serangan ciber di perhelatan besar seperti di Asian Games 2018 yang lalu. Pihak Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) membantu untuk mengamankan Asian Games 2018 dari serangan cyber. BSSN akan mengidentifikasi potensi ancaman dan kerentanan keamanan dari sebuah sistem teknologi di Asian Games tahun 2018 yang lalu.

8. Kamera hawk eye

Kamera hawk eye sudah diterapkan diberbagai macam pertandingan olahraga. Contohnya pertandingan sepak bola, bulu tangkis dan juga pertandingan yang lain. Teknologi ini merupakan sebuah teknologi canggih yang akan sangat bermanfaat untuk menghindari kesalahan atau human error yang bisa dilakukan oleh manusia.

Kamera hawk eye ini adalah kamera yang digunakan untuk membuat pertandingan bulu tangkis menjadi semakin menarik lagi. Kamera ini disebut sebagai kamera hawk eye atau jika diartikan atau diterjemahkan kedalam bahasa indonesia memiliki arti mata elang. Ada berapa banyak kamera hawk eye yang dipasang di Gelora Bung Karno? Ada sekitar 45 kamera hawk eye yang dipasang di Gelora Bung Karno.

Dengan adanya kamera hawk eye atau kamera mata elang ini, akan sangat berguna untuk wasit untuk melihat garis lintasan shuttlecock dari sudut pandang yang berbeda-beda. Dengan adanya teknologi ini, maka human error atau kesalahan manusia akan lebih mudah dihindari.

Pemain bulu tangkis pun dapat melakukan challenge atau keberatan atas keputusan yang diberikan oleh hakim garis. Dengan menggunakan review atau tanyangan ulang yang ditampilkan oleh hawk eye kita bisa melihat pergerakan secara lebih lambat lagi. Sehingga pemain bulu tangkis bisa mengetahui apakah shuttlecock ke luar atau masuk. Sehingga pemain bulu tangkis yang melakukan challenge tersebut akan merasa lebih puas dengan keputusan yang diambil oleh hakim garis.

Meskipun pemain bulu tangkis bisa melakukan challenge atau keberatan atas keputusan hakim garis, namun terdapat peraturan yang membuat challenge atau keberatan tersebut tidak bisa diberikan, diantaranya jika pemain bulu tangkis tersebut sudah mengajukan 2 kali challenge ke hakim garis maka kesempatan untuk melakukan challenge tidak bisa diberikan, hal itu dikarenakan pertandingan bulu tangkis tersebut akan menjadi lebih lama.
Scroll To Top