Ternyata Virtual Reality bisa digunakan untuk mengatasi gangguan psikologis

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika anda mendengar teknologi Virtual Reality? Tentunya yang anda pikirkan adalah sebuah kacamata yang dapat menampilkan objek 3D, dimana kita dapat berinteraksi dengan objek tersebut sehingga terasa lebih nyata. Biasanya ketika anda mendengar virtual reality anda langsung terpikirkan sebuah game yang keren. Meskipun virtual reality terkait dengan dunia game, tetapi ternyata virtual reality bisa dimanfaatkan untuk hal lain, salah satunya untuk terapi psikologi seperti gangguan mental bahkan fobia. Hal ini bukan tanpa dasar, tetapi hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli. Berikut penjelasannya:

1.       Penggunaan virtual reality digunakan untuk mengatasi fobia yang spesifik sejak tahun 1990


Jika anda memiliki tingkat kecemasan yang tinggi, anda bisa menggunakan VR sebagai alat untuk mengatasi kecemasan. Bahkan untuk kecemasan yang kompleks pun alat VR masih bisa menyelesaikan kecemasan tersebut. Contoh dari kecemasan adalah kecemasan sosial dan trauma. Bahkan menurut menurut penelitian lebih lanjut, penyakit skizofrenia paranoid bisa disembuhkan dengan VR. Tapi alat untuk mengatasi penyakit skizofrenia ini masih dalam tahap pengembangan yang lebih lanjut lagi. Mudah-mudahan alat VR yang bisa mengatasi  penyakit kecemasan dan bahkan penyakit skizofrenia ini bisa dipasarkan di masyarakat, sehingga banyak orang yang merasakan manfaatnya.

2.       Mengatasi gangguan kecemasan adalah dengan menghadapi ketakutan itu

Jika anda mengalami gangguan kecemasan, atau bahkan kecemasan tersebut sudah sangat parah, cara yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit kecemasan anda adalah dengan menghadapi kecemasan tersebut. Hal ini yang diungkapkan oleh Stephane Bouchard. Stephane Bouchard adalah seorang ahli psikologi siber klinis yang berasal dari universitas Quaebac, Outaouais, yang berada di Kanada. Terapai ini dikenal juga dengan terapi pemaparan dengan menggunakan dukungan emosional yang diberikan oleh terapis. Dengan menggunakan VR kita bisa melihat secara lebih nyata, lingkungan atau gambaran yang berkaitan dengan ketakutan yang kita miliki tersebut. Lalu kita bisa mulai menghadapi atau melawan ketakutan tersebut.

Dengan menggunakan terapi untuk mengatasi kecemasan dengan menghadapi kecemasan atau ketakutan tersebut. Diharapkan ketakutan atau kecemasan yang dialami akan berkurang atau bahakan menghilang. Ketakutan tersebut bisa berasal dari kehidupan nyata ataupun juga berasal dari memori traumatis yang berasal dari pengalaman yang pernah dialami oleh penderita atau pasien.

3.       Menghadapi ketakutan atau kecemasan dari VR dianggap lebih mudah daripada kehidupan di dunia nyata

Misalnya kita memiliki fobia ketinggian atau bisa dibilang takut ketinggian. Dengan menggunakan VR kita bisa mengatasi ketakutan ketinggian tersebut dengan mencoba sesi berada di tempat tinggi dengan bantuan alat VR. Kita bisa sesekali menggunakan alat VR tersebut untuk terapi, bahkan kita bisa menggunakan alat VR tersebut untuk dapat digunakan berkali-kali sampai ketakutan kita bisa menghilang. Dengan demikian kita bisa mengurangi biaya dan juga akan mengurangi kerumitan yang timbul dari mengatasi fobia kita. Jika kita menggunakan VR untuk melakukan sesi terapi. Kita bisa langsung menggunakan dan menyetelnya. Seorang tentara yang mengalami penyakit post traumatic stress disorder akan sangat sulit untuk mengingat detail dari kenangan yang menyakitkan tersebut. Dengan menggunakan alat VR ini, kita bisa mengingat detai dari kenangan tersebut dengan lebih mudah.

4.       Harga Virtual Reality semakin lama semakin murah, sehingga mudah untuk diperoleh pasien

Ketika peralatan VR atau virtual reality diciptakan, harga dari virtual reality tersebut sangat mahal, oleh karenanya pada saat itu pasien akan sulit untuk memiliki peralatan VR pada saat itu. Bayangkan harganya bisa sampai puluhan ribu dolar, atau jika dirupiahkan harganya bisa sampai ratusan juta rupiah. Meskipun pasien adalah seorang yang sangat kaya sekali pun, harga yang sampai ratusan juta rupiah tersebut, tentunya tidak layak jika hanya digunakan untuk mengatasi kecemasan tersebut. Sekarang harga virtual reality sudah relatif lebih murah. Dengan hanya memanfaatkan peralatan seperti headset, seperti Oculus Rift dan Samsung Gear VR, tentunya terapi kecemasan dengan VR ini akan lebih mudah didapatkan atau terjangkau. Harga perangkat tersebut juga hanya beberapa ratus dolar saja.

5.       Penggunaan virtual reality menjadi lebih mudah pada saat ini (user friendly)

Dengan berkembangnya teknologi yang semakin maju pada saat ini, tentu saja teknologi virtual reality juga mengalami perkembangan. Misalnya saja teknologi ini menjadi lebih mudah digunakan oleh pengguna dan juga teknologi ini menjadi lebih nyata lagi. Tapi penggunaan yang mudah adalah salah satu unsur yang penting dalam suatu alat apapun. Secanggih apapun alat itu, jika alat tersebut sulit untuk digunakan, maka peralatan itu akan menjadi kurang berguna atau tidak bisa digunakan. Bahkan VR pada saat ini dikembangkan untuk menggobati gangguan metal yang lebih luas lagi. Dengan demikian, tugas dari terapis akan menjadi lebih mudah.

6.       Virtual Reality sangat nyata, sehingga akan berpengaruh dengan psikologi kita


Ketika kita menggunakan alat VR ini, kita akan melihat suatu objek tertentu yang sangat nyata. Karena objek tersebut sangat nyata, alam bawah sadar kita akan menganggap bahwa apa yang kita saksikan di VR tersebut adalah sebuah kenyataan, meskipun kita secara sadar mengetahui bahwa itu cuman VR dan tidak nyata (gambaran pixel saja). Tapi tetap saja rasa takut tersebut akan tetap muncul. Rasa takut itu bisa muncul ketika kita melihat VR yang terlihat nyata tersebut dikarenakan otak kita yang disebut pusat komando emosi otak atau yang biasa disebut dengan sistem limbik merespons situasi yang penuh dengan tekanan tersebut dalam hitungan milidetik.

7.       Pasien yang menggunakan virtual reality tersebut akan melakukan perlawanan atau menghindar

Ketakutan yang sangat nyata yang diakibatkan oleh VR tersebut akan mengakibatkan pasien yang menggunakan teknologi ini akan merespon dengan melakukan perlawan atau menghindar. Ketika pasien menggunakan VR pasien akan menunjukan peningkatan kadar hormon stress korisol, detak jantung dan konduksivitas dari kulit, hal ini dikemukakan oleh seorang psikologi klinis dari Emory University yang terletak di Atlanta, psikolog ini bernama Barbara Rothbaum.

8.       Di zaman yang canggih saat ini psikolog percaya bahwa virtual reality bisa berfungsi dengan baik

Pada waktu zaman dulu, tepatnya ketika tahun 1990 an, banyak orang yang skeptis bahwa simulasi berbasis komputer akan berpengaruh terhadap psikologis seorang manusia. Salah satu dari mereka yang skeptis adalah Rothbaum dan rekan-rekannya. Hal itu sebenarnya sangat wajar dan masuk akal dikarenakan teknologi di zaman itu tidak terlihat nyata sehingga tidak menimbulkan reaksi psikologis tertentu. Berbeda dengan menggunakan VR atau virtual reality saat ini. Teknologi VR yang bisa dibuat se nyata mungkin ini bisa memacu seseorang untuk mengalami pengalaman psikologis tertentu, ketika pengalaman psikologis tersebut muncul, maka terapis bisa mengobatinya dengan cara-cara tertentu.
Scroll To Top